Sabtu, 04 Juni 2011

PENTINGNYA PENDIDIKAN SEX DI USIA DINI


Rudi baru berusia 3 tahun, sudah mulai bertanya macam-macam yang berkaitan dengan sex education yang  mendorong Orang Tua untuk mencari jawaban yang tepat untuk  pertanyaan-pertanyaan itu. Berikut contoh pertanyaan – pertanyaan Rudi :
            1.  ma, kenapa anak laki-laki  kalo' pipis berdiri?
            2.  kog dede' Rani (anak tetangga) keluar pipisnya beda? 
                 ndak sama dengan Rudi?
            3.  kenapa mama berdarah? sakit ndak ma? (haid maksudnya)
            4.  kapan Rudi punya anak? (sampe' bengong dengernya... )
            Dari beberapa literatur ternyata pendidikan sex diusia dini sangat baik. terutama untuk mencegah pergaulan bebas dan untuk mencegah timbulnya kekerasan sexual pada anak dikemudian hari. Kalau pendidikan sex diberikan setelah anak remaja, ternyata sudah dibilang terlambat. Karena zaman sekarang, di mana informasi mudah didapat dari Internet dan teman sebaya, maka saat anak usia remaja mereka telah mengetahui lebih banyak tentang seks dan kemungkinan besar dari sudut pandang yang salah.
Berikut bebrapa pendapat berkaitan dengan sex.
  1. Sex... sesuatu yang bisa membuat orang berpikir macam-macam dari yang mesum sampe yang intelek. Tanpa kita sadari informasi yang udah Hi-Tek ini membuat informasi mudah diakses dimanapun kapanpun, kita sebagai orang tua atau calon orang tua perlu memberikan filter kepada anak-anak kita. Salah satunya tentang “Sex”. Filter yang bisa diberikan untuk sex adalah pendidikan sex itu sendiri pada usia dini.
  2. Di Indonesia pendidikan sex kurang populer di masyarakat (tabu), mereka menganggap anak akan tau dengan nalurinya sebagai manusia tentang sex itu sendiri. Padahal kalau naluri sex itu tidak diarahkan dengan benar akan menimbulkan sesuatu yang akan membuat kita menyesal dibelakang . Apalagi kalau usia balita. Saru dan tabu kalau anak bertanya soal sex, bisa dipastikan orang tua akan berkilah, mengalihkan perhatian, menutup-nutupi atau menyodorkan jawaban yang tidak  masuk akal. Mengajarkan masalah sex pada anak-anak memang tidaklah mudah. Jika salah paham bisa-bisa anak malah takut, bukannya mengerti bahkan salah mengerti .Pendidikan sex tidak harus bicara tentang anggota tubuh, melainkan lebih terfokus pada bagaimana mereka mengenal dirinya, punya konsep diri yang positif dan matang. Mereka belum tahu perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Kita juga perkenalkan bagian tubuh yang pribadi dan siapa saja yang boleh menyentuhnya.
Menurut Frieda Mangunsong, seorang Doktor psikolog memaparkan pendatnya tetang pendidikan sex pada anak sebagai berikut:
  1. “Anak balita hendaknya telah memperoleh pendidikan sex sejak dini. Hal ini berguna untuk mencegah timbul dan berkembangnya pikiran-pikiran negatif pada anak, terutama apabila anak sudah mulai menerima informasi dari media-media yang ada, seperti televisi, internet, buku, dll.
  2. Pendidikan sex sejak dini juga berguna bagi buah hati agar mereka dapat berhati-hati dengan perlakuan berbahaya yang mereka terima dari lingkungan sekitar mereka, seperti pelecehan seksual, dll.
  3. Orang tualah yang paling tepat untuk memberikan pendidikan sex sejak dini, karena keluarga adalah sekolah (wahana belajar) pertama bagi balita. Yang sangat ditekankan dalam pendidikan sex ini adalah pentingnya menjaga diri. Tubuhmu adalah milikmu, begitu prinsipnya. Anak-anak ini tak hanya paham soal anggota tubuh, tapi juga waspada dan hati-hati menjaganya”.
Beberapa Tips  Bagi Orang Tua untuk  Pendikan Sex Bagi Balita
  1. Gunakanlah istilah-istilah yang tepat pada saat anak bertanya
Gunakan istilah yang sebenarnya, jangan diganti dengan bahasa atau istilah lain yang justru akan membingungkan anak misal adik datang dari burung bangau. Jadi, istilah seperti sel telur, mani, dll dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dari si anak.
  1. Ambil inisiatif
Jika sampai usia 3 tahun anak belum pernah menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan sex, maka segeralah bertanya kepada anak sejauh mana yang telah diketahuinya. Jangan timbul pikiran-pikiran negatif, dan jangan biarkan anak “berkreasi” sendiri dengan pikiran mereka
  1. Jelaskan dengan jelas sesuai kebutuhan
Jawab pertanyaan anak sesuai kebutuhan, sesuai pertanyaan, secara singkat, padat dan jelas
  1. Jangan ada yang ditutup-tutupi atau jangan sungkan
Jawablah dengan jujur setiap pertanyaan si kecil. Jangan sungkan dan jangan menganggap pertanyaan mereka adalah pertanyaan tabu.
  1. Lakukan sedini mungkin
Jangan tunda pendidikan sex bagi anak, terutama bila ia sudah terekspos dengan media informasi yang ada. Jelaskanlah bagian tubuh anak, dan jelaskan pula pada mereka bahwa mereka tidak boleh melepas bajunya di depan orang lain dan jangan biarkan orang lain menyentuh atau meraba bagian tubuh anak. Yang boleh melihat bagian dalam tubuh hanya orang tua dan dokter ketika sedang memeriksanya. Terangkanlah dengan bahasa yang sederhana apa yang boleh dan tidak sehingga anak jelas dan mengerti.
  1. Jadilah pendengar yang baik
Dengarkanlah komentar dan ocehan si Kecil dengan sabar, dan jelaskan semua yang ingin mereka ketahui

  1. Harus sabar dan bijaksana
Sebenarnya orang tua wajib memberikan informasi yang benar dengan kadar-kadar yang sesuai dengan kapasitasnya, baik umur maupun psikis anak itu sendiri  (karena orang tua yang lebih tau akan kondisi anak). Jangan sampai orang tua malah menutup-nutupi atau memberikan informasi yang tidak benar.

           Disini bisa kita lihat bahwa komunikasi antara orang tua dan anak sangat penting dalam pendidikan sex usia dini (tidak cuma dalam pendidikan sek tapi semua). Kalau komunikasi antara orang tua dan anak tidak terjalin dengan naik “Apa kata dunia”. Kewajiban orang tua bukan hanya memberi sandang, pangan, papan tapi juga kasih sayang (kasih sayang tidak cuma dikatakan tapi di praktekan juga ) salah satunya dengan komunikasi itu. jangan sampai anak disalahkan apabila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan misalkan  aborsi dll.
           Jangan lupa pendidikan agama juga berperan penting dalam pendidikan sex, jangan anda menyuruh anak bisa melakukan ritual keagamaan tetapi bagaimana anak bisa menyukai, memaknai dan mengamalkan ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehati-hari. Ada pesan yang penting, “Orang tua bertanggung jawab akan anaknya selama anak tersebut menjadi tanggungjawab dari orang tuanya”. Jika anak rusak atau berdosa maka pertama kali yang akan diminta tanggung jawab oleh Tuhan adalah orang tuanya.
          Jadi, janganlah anda menjadi orang tua yang akan menyesal di kemudian hari, mumpung masih ada waktu, mari yang belum menjalin komunikasi yang baik dengan anak sekarang waktunya, jangan ditunda-tunda lagi,  kalau memang anda sayang sama anak anda. Tiga hal yang akan anda bawa mati yaitu Ilmu yang bermanfaat, Amal Jariyah  dan doa anak yang sholeh.
Semoga tulisan yang sederhana ini memberikan manfaat  bagi para pembaca yang budiman.

1 komentar:

  1. DANAGAN ADA NYA PENDIDIKAN SEX DI USIA DINI,AKAN LEBIH MEMBERI RUANG SEMPIT GERAK KEPADA PERBUATAN MAKSIAT,,,,TRUTAMA KEPADA PELECEHAN SEX SUAL,

    BalasHapus