Selasa, 07 April 2015

Tanggung Jawab Membesarkan Anak Secara Islami

Membesarkan Anak Secara Islami
بسم الله الرحمن الرحيم
Allaah ta^aalaa berfirman dalam Surat at-Tahrim;
يا أيها الذين ءامنوا قوا أنفسَكم وأهليكُم نارا وقودُها الناسُ والحجارة
Ayat ini sebagaimana maknanya;
"Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api Neraka, yang bahan bakarnya berasal dari manusia dan batu."
Masyarakat yang baik adalah mereka yang secara individual mempunyai kepribadian yang baik.
Siapakah individual yang membangun kemasyarakatan ini? Mereka adalah; ayah, ibu dan anak.
Orangtua harus memegang peran yang baik untuk anak-anaknya, dan mereka harus mendidiknya dengan kepribadian dan kesopanan sebagai Muslim yang baik.
Dalam soal mendidik dan membesarkan anak secara Islami, Sheikh Mustafa Naja yang dulunya sebagai Mufti di Beirut, berkata;
"Anak kecil lebih mudah di-didik, tidak seperti mereka yang telah dewasa. Apa yang kamu ajarkan pada anak kecil, itu akan membuat efek di waktu dewasanya. Anak kecil adalah bagaikan Kendi kosong yang akan menerima apa saja yang kamu isikan. Bila kamu isi dengan bahan murni, maka itulah yang akan dia keluarkan."
Rasulullaah sallallaahu ^alayhi wa sallam berkata:
مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع
Yang sebagaimana maknanya;
"Ajarilah anak-anakmu untuk berdoa ketika mereka berusia tujuh."
Kita memahami dari Hadith tsb, bahwa;
Adalah suatu kewajiban bagi orangtua atau wali bila seorang anak mencapai usia Mumayiz, untuk menyuruhnya melakukan shalat, mengajarinya hukum/cara shalat setelah dia mencapai usia tujuh tahun hijriah.
Sama halnya dengan Puasa, bila seirang anak mampu melakukan puasa.
Selebihnya lagi orangtua harus mengajarkan anaknya tentang Dasar-Dasar Islam, spt; Allaah ada tanpa tempat, dan Allaah mengutus para Nabi dan Rasul, Nabi pertama adalah Adam dan Nabi terakhir adalah MuHammad.
Orangtua juga harus mengajarkan kepada anaknya, apa-apa yang diperbolehkan dan yang dilarang oleh islam.
Mereka sebaiknya mengajarkan anaknya apa yang menjadi Kewajiban bagi Muslim, seperti shalat lima waktu. Dan mengajarkan tentang Sunnah seperti shalat berjamaah, dsb.
Apa yang kita saksikan saat ini adalah tentang; pembunuhan, pencurian dan konsumsi obat terlarang, adalah akibat dari "ketidak-hadiran" orangtua dalam memegang peran dan menyepelekan dalam Membesarkan dan Mendidik anak secara islami, bahkan mengajarinya hal-hal yang keliru kepada mereka. [Seperti memberikan anak-anak dengan benda-benda/permainan agar mereka "diam dan sibuk" sendiri].
Kita mohon kepada Allaah agar kita diberi kemampuan dalam mebesarkan dan mendidik anak-anak kita secara islami, dan menjadikan mereka masyarakat kita yang shaleh. Aamiin
Mumayiz, adalah;
anak yang telah bisa nembedakan mana tang benar dan yang salah, bila kita beri pertanyaan misal; ttg urutan hari, dll. Dalam islam biasanya bila anak telah mencapai usia 7 [tujuh] tahun bulan hijriah.

Jumat, 27 Maret 2015

Perangkat Lunak

Bagi yang butuh perangkat untuk gambar molekul kimia unduh  dengan klik disini

Kamis, 05 Maret 2015

JUKNIS BOS SMA TAHUN 2015

Permendikbud Nomor 161 tahun 2015 , tertuang dalam bentuk Juknis BOS Tahun 2015. Bagi yang terkait dengan pengelolaan dana BOS Tahun 2015  Sekolah Menengah Atas (SMA)  bisa unduh Juknis yang dimaksud  dengan klik disini  semoga bermanfaat.

Jumat, 27 Februari 2015

POS UN 2015

POS UN 2015 dapat diunduh dengan klik disini

Minggu, 08 Februari 2015

Ki Hajar Dewantara




Nama Lengkap : Ki Hajar Dewantara
Profesi : -
Agama : Islam
Tempat Lahir : Yogyakarta
Tanggal Lahir : Kamis, 2 Mei 1889
Zodiac : Taurus
Warga Negara : Indonesia

Biografi
 Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ki Hajar Dewantara dibesarkan di lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, Ki Hadjar Dewantara tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.