Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum , kecuali mereka sendiri yang merubahnya
Jumat, 25 Oktober 2013
Rabu, 16 Oktober 2013
Memahami Makna Idul Adha
Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat
Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia
melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah
yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak
sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat,
rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama.
Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.
Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail. Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109. Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani. Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama. Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia. Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 ) Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?. Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia. Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311) Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna. Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris. Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha. Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya ! Ditulis oleh Yusuf Fatawie* * Koordinator Forum Kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Kediri. Staf Ahli Majalah Misykat Kediri. |
Kamis, 26 September 2013
Pentingnya Pendidikan Moral
Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota
Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open
school” di sekolah tersebut. Kalau di
Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di
pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar
perumahan.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Kamis, 12 September 2013
Matematika VS Antri
Seorang guru di Australia pernah
berkata, “Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak
pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.
Sewaktu ditanya : “Mengapa dan kok
bisa begitu ? Kerena yang terjadi di negara kami justru sebaliknya”.
Inilah jawabannya :
1. Karena
kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk
bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih
untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses
mengantri.
2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi
menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI.
Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi,
Pelukis dsb.
3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari
murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang
yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS
ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari
mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
“Memang ada pelajaran berharga apa
dibalik MENGANTRI?”
“Oh iya banyak sekali pelajaran
berharganya:
1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin
mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya
tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang
datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri
penting..
4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot
hak orang lain.
5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan
kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di
Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan
mengobrol dengan orang lain di antrian.
7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses
dalam mencapai tujuannya.
8. Anak belajar hukum sebab akibat,
bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia
menyerobot antrian dan hak orang lain.
11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang
ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk
ke kamar kecil.
12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada
orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan
anda temukan sendiri sisanya.
Saya sempat tertegun mendengarkan
butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika
mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang di pertontonkan para orang
tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
1. Ada orang tua
yang memaksa anaknya untuk “menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak
lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata, “Sudah cuek saja,
pura-pura gak tau aja !!”
2. Ada orang tua yang
memarahi anaknya dan berkata, “Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa
menyerobot antrian.
3. Ada orang tua
yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di erbolehkan masuk
antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus
segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian
permainan yang berbeda.
4. Ada orang tua
yang malah marah2 karena di tegur saat anaknya menyerobot antrian, dan
menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5. Dan berbagai
macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?
Senin, 05 Agustus 2013
Selamat Idul Fitri 1434 H
Ya Allah, Pemilik Bulan Ramadan dan Pemilik Hari Idul Fitri ini
Kami berlindung dengan keagungan wajah-Mu yang mulia
Dari usainya Ramadan 1434 H
Sementara dari kami masih tersisa dosa-dosa disisi-Mu, atau
Kejelekan-kejelekan kami yang engkau azab kami karenanya
Ya Allah, jangan jadikan puasa kami yang baru berlalu
Puasa yang penghabisan dalam hidup kami
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mendengar
Tiada Tuhan selain Engkau
Inilah kami orang-orang yang berlumur dosa
Menengadahkan tangan pada-Mu
Memohon belas kasih-Mu
Kami mohon kepada-Mu Ya Allah
Agar di hari yang penuh kemuliaan ini
Ampunilah seluruh dosa kami Ya Allah
Rabbana Dholamna Anfusanaa Wainlamtagfirlana
Watarhamna Lanakuunanna Minal khasirin
Ya Allah, sekelam apapun masa lalu kami
Senista apapun aib-aib kami, dan
Sekotor apapun tangan kami
Bersihkan kami di Hari Idul Fitri ini
Hari yang suci ini
Allahummafirlanaa Waliwaalidiina Warhamhuma
Kama Rabbanaya Sighara
Ya Allah, ampuni dosa-dosa kedua orang tua kami
Sayangilah mereka sebagaimana mereka
Telah menyayangi kami sejak kecil
Jangan engkau bebankan kepada mereka tanggungjawab
Jika ada kekurangan mereka
Dalam mendidik kami
Sehingga kami tidak taat kepada-Mu
Ya Allah selamatkan seluruh anggota keluarga kami
Dari kesengsaraan dunia dan akhirat
Jadikan hidup mereka penuh dengan cahaya hidayah-Mu
Yang akan mengantar mereka meraih syorga-Mu
Ya Allah, Ya Maha Pengasih dan Tak Pilih kasih
Jadikan pemimpin negeri ini
Adalah orang yang engkau selalu tuntun di jalan-Mu
Yang memiliki kearifan dalam menjalankan amanah
Yang selalu bersemangat dan tanpa lelah dalam pengabdian
Sehingga engkau menolongnya dan membimbingnya
Menemukan yang terbaik untuk negeri ini
Ya Allah, berikan kelapangan bagi kami yang dihimpit kesusahan
Ya Allah, berikan kecukupan bagi kami yang selalu kekurangan
Ya Allah. Sabarkan dan sembuhkan mereka yang terbaring sakit
Ya Allah, lapangkan Lahad Saudara dan keluarga kami
Yang kini tidak bersama kami lagi
Terbaring di dalam kubur
Ampuni mereka, sayangi mereka Ya Allah
Ya Rahman Ya Rahiiim
Ya Allah jadikan anak keturunan kami
Lebih baik dari pada kami
Jangan biarkan anak-anak yang mencoreng
Aib di wajah kami
Ampuni jikalau kami salah dalam mendidik mereka
Ya Rabb, Ya Allah, bimbing mereka dalam hidayah-Mu
Dalam kehidupan di mayapada ini
Ya Allah, bukakan hati kami untuk saling memaafkan
Jangan biarkan ada dendam kesumat yang terpendam
Ya Allah lindungi Islam dari perpecahan
Lindungi umat Islam dari kehinaan
Ya Allah lindungi dan selamatkan semua pejuang agama-Mu
Dimana pun mereka berjuang
Subhanaaa rabbika rabbil izzati amma yaaashifuun
Wassamun alal mursalin
Walhamdulillahi rabbil alamien
Label:
Idul Fitri
Langganan:
Postingan (Atom)